FENOMENA DI LAUT LAMPUNG

By : Madevta

Warga lampung sempat dihebohkan dengan fenomena air laut yang menyala biru pada saat malam hari, beberapa hari berikutnya fenomena ini diikuti munculnya busa pada saat siang hari. Fenomena tersebut telah dibagikan oleh beberapa netizen, diantaranya yaitu akun Instagram @kruinsta yang memperlihatkan foto saat busa melimpah. serta akun Instagram @riez_aries yang mengambil foto saat laut berwarna biru di Perairan Pesisir Barat Lampung.
Terkait fenomena tersebut sebuah perusahaan media online kompas.com menghubungi Hardian Sy. Prayitno selaku Kasi Pengendalian Penangkapan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. Pihaknya pun membenarkan adanya fenomena laut berwarna biru pada malam hari di Perairan Pesisir Barat Lampung tersebut.
Terkait peristiwa itu, Hardian menyampaikannya ke tim ahli Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung sudah melakukan penelitian. “Hasil fenomena tersebut terjadi akibat peningkatan  populasi plankton yang masih aktif” kata beliau. Haidan mengatakan bahwa cahaya biru yang muncul berasal dari plankton jenis Gonyaulax  sp.
Gonyaulax sp termasuk dalam bioluminescence. Sifat bioluminescence ini memancarkan cahaya di air laut terang Haidan. Ia juga mengatakan kejadian tersebut tidak berbahaya lantaran belum adanya deteksi racun dari plankton tersebut. Haidan mengatakan, awalnya laut menimbulkan cahaya yang berlangsung selama 3 sampai 4 hari kemudian menimbulkan busa, busa ini ialah akumulasi dari kotoran-kotoran plankton yang drop atau mati.
Kejadian tersebut berlangsung sekitar 17-21 Desember 2019, dimana laut menyala biru dan berubah menjadi berbusa di siang hari pada 22-23 Deseber 2019. Dan fenomena ini sudah tidak terjadi lagi.


--------------------------------------------------








Misteri Hilangnya Supriyadi Pemberontak Blitar

By : Madevta

Supriyadi lahir pada 13 April 1923 di Trenggalek, Jawa Timur. Kehidupan ia pada masa mudanya dihabiskan dengan bersekolah di ELS setingkat SD pada saat pemerintahan Belanda. Setelah lulus ia melanjutkan SMP di MULO, beberapa tahun berselang ia melanjutkan sekolahnya di Pamong Praja yang berada di Magelang. Namun ia tak sampai lulus karena Jepang sudah mulai menyerang Indonesia. Akhirnya ia dipaksa Jepang untuk mengikuti pelatihan Seimendoyo di Tangerang, Jawa Barat.
Sekitar bulan Oktober 1943, Jepang kala itu menggebrak Belanda dan mulai mengatur strategi perang. Mereka juga membuat sebuah organisasi milisi yang terdiri dari warga lokal. Mereka mendirikan PETA dan memperkejakan warga lokal untuk berperang melawan sekutu. Pada akhirnya Supriyadi bergabung dengan organisasi PETA ini dan diberi jabatan Shondancho. Ia bertugas menjadi pemimpin gerakan ini di Blitar, Ia juga bertugas menjadi pengawas romusha atau pekerja yang dipaksa membangun jalan dan benteng di Blitar.
Melihat saudara sendiri yang selalu dipaksa, bahkan tak diperlakukan dengan layak hingga banyak yang mati Supriyadi menjadi geram. Akhirnya ia memutuskan untuk merencanakan sebuah gerakan pemberontakan. Pada saat Bung Karno datang ke Blitar Supriyadi dan Pasukannya langsung menghadap dan menceritakan semua rencana yang sudah disusun dengan matang. Pada saat itu juga Bung Karno memperingati Supriyadi tentang dampak pemberontakannya, Namun ia bersikeras bahwa pemberontakan ini akan berhasil.
Tepat pada 14 Februari 1945, tentara PETA di Blitar melakukan pemberontakan. Namun sayang Jepang terlalu hebat dan tak dapat dikelabuhi. Pada akhirnya banyak dari mereka yang ditangkap dan diadili, beberapa dihukum mati dan ada yang dipenjara. Pada saat persidangan berlangsung Supriyadi tidak tampak. Ia hilang dan tidak ditemukan hingga saat ini. Padahal pada tanggal 6 Oktober 1945, saat pemerintahan Indonesia didirikan. Bung Karno memberinya Jabatan  berupa Menteri Keamanan Rakyat, Namun beberapa hari berselang Supriyadi  tak jua muncul hingga pada akhirnya jabatan ini diberikan kepada Imam Muhammad Suliyoadikusumo.
Banyak hal misterius terkait hilangnya Supriyadi hingga saat ini. Beberapa orang lokal Blitar mengatakan jika Supriyadi hilang di Gunung Kelud dan tak pernah Kembali.Ia menyatu dengan alam hingga tentara jepang tak dapat menangkapnya kembali. Orang-orang di Blitar masih percaya jika Supiyadi saat ini masih hidup dan berbaur dengan masyarakat di lereng Gunung Kelud. Pendapat ini berbeda dengan Ki Utomo Darmadi adik tiri dari Supriyadi yang mengungkapkan mungkin Supriyadi sudah tewas dibantai oleh tentara jepang, Ia juga yakin bahwa Supriyadi tak memiliki ajian atau ilmu menghilang.
Pada Maret 1945,Seorang warga jepang bernama Nakajima yang dulunya guru Supriyadi mengakui didatangi Supriyadi untuk menyembunyikannya. Namun hal itu tak berselang lama hingga Supiyadi pamit dan pergi ke Banten Selatan unuk bersembunyi. Seorang tokoh di Bayah,Banten Selatan mengatakan pernah merawat pemuda yang terkena disentri Sayangnya ia meninggal, Diduga pemuda itu adalah Supriyadi. Tokoh Bayah yang bernama H Mukandar itu kaget saat ditunjukan foto Supriyadi. Ia menyakini bahwa pemuda itu adalah Supriyadi si Pemberontak dari Blitar
Wacana tentang  hidup dan matinya Supriyadi memang tak ada habisnya. Meski demikian Ia telah dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975. Jasanya yang besar hingga membuat banyak pasukan PETA  untuk memberontak ke Jepang patut dihargai.



--------------------------------------------------