Jadilah Pahlawan Masa Kini

Article by : Madevta

Hari pahlawan biasa diperingati pada 10 November, tujuan memperingati hari pahlawan ialah untuk meningkatkan kesadaran anak bangsa agar mencintai tanah air dan menjaga bangsa agar tidak tercerai berai. Keutuhan bangsa yang telah dibangun oleh para pendahulu dengan tetesan darah dan air mata hendaknya tetap dijaga.
Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan  khairul anwar pernah berkata “Jangan biarkan tangan-tangan jahil atau pihak yang tidak bertanggung jawab merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan biarkan negeri kita terkoyak,tercerai berai, terprovokasi untuk saling menghasut dan berkonflik satu sama lain.” Sebagai generasi bangsa hendaknya kita menjaga kesatuan dan persatuan bangsa ini dari orang-orang yang ingin merusak keutuhan bangsa kita ini.
Menjadi Pahlawan Masa Kini dapat dilakukan oleh seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) dalam bentuk aksi  nyata yang dapat memperkuat keutuhan NKRI. Misalnya menolong sesama yang terkena musibah, tidak menyebarkan berita hoax, tidak melakukan perbuatan anarkis atau yang merugikan orang lain dan bangsa.
Jika dulu semangat seorang pahlawan ditunjukkan dengan pengorbanan tenaga dan nyawa. Sekarang menjadi pahlawan tidak harus berjuang untuk mengusir penjajah dengan senjata, tetapi bisa dilakukan dengan cara menorehkan prestasi diberbagai bidang dan membawa harum nama bangsa di mata Internasional.
Hari Pahlawan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dapat diisi dengan berbagai aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan rasa kepedulian untuk menolong sesama. Dengan menjadikan diri sebagai Pahlawan Masa Kini permasalahan yang melanda bangsa dapat teratasi dengan baik. Pemerintah juga mengajak anak bangsa untuk terus memupuk nilai kepahlawanan agar melekat di dalam hati masyarakat Indonesia.
Jadilah Pahlawan Masa Kini yang dapat membanggakan dan mengharumkan nama Bangsa Indonesia.






Cinta Puspa dan Satwa Nasional

An article by : Destya Ardiana

   Tau gak sih, kapan hari cinta puspa dan satwa nasional itu? Masih ingat atau sudah lupa nih para sobat literasi? Baiklah jika kalian lupa maka akan saya ingatkan kembali. Hari cinta dan satwa nasional itu diperigati pada tanggal 5 November di setiap tahunnya.
   Berbicara perihal ini, kalian tau tidak apa itu puspa dan satwa? Lantas, mengapa harus ada perayaannya?  Jadi, Puspa adalah bunga/tumbuhan sedangkan satwa adalah binatang. Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai kelestarian puspa dan satwa di Indonesia.
   Hari besar ini biasa dirayakan oleh kementerian lingkungan hidup dan kehutanan Republik Indonesia. Namun, tak hanya lembaga dinas saja yang bisa merayakannya. Berbagai kebun binatang dan lembaga organisasi jua bisa berkontribusi dalam perayaan tersebut. Seperti Kukangu dan teman-teman studi konservasi fahutan uniku yang menggelar aksi simpatik di Kuningan, Jawa Barat. Mereka memperingati hari cinta satwa dan puspa nasional dengan cara mengadakan kampanye saat car free day pada hari minggu, bertempat di sepanjang jalan Siliwangi dan terpusat di sekitar Taman  pendapa di seberang kantor bupati. Kegiatan kampanye ini diisi dengan bermacam kegiatan positif antara lain, pameran foto edukasi satwa, aksi teatrikal satwa, dan juga penggalangan dukungan kepada masyarakat untuk mewujudkan Kuningan sebagai kabupaten konservasi.
   Menurut Agung Kurnia selaku koordinator aksi kampanye, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran dalam melindungi puspa dan satwa liar di Indonesia, khususnya di Kuningan. "Di Kuningan ini ada Taman Nasional Gunung Ciremai, yang potensi puspa dan satwanya jarang sekali orang ketahui. Kami tidak ingin ketidaktahuan ini malah menjadi ancaman kelestarian puspa dan satwa kita," ujar koordinator kampanye tersebut.
   Ancaman tersebut memang tidak hanya disebabkan oleh faktor alam seperti hilangnya habitat akibat kebakaran, namun beberapa kasus seringkali justru disebabkan oleh manusia itu sendiri. Melakukan perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan satwa, khususnya satwa dilindungi masih kerap terjadi di sekitar Kuningan. Padahal Kabupaten Kuningan sendiri berkomitmen untuk menjadi kabupaten konservasi.
   Kita harus mengigat bahwa melakukan hal negatif diatas bisa mendapat jeratan sanksi oleh Undang-undang yang tertera di KUHP serta hukuman tersendiri dari pihak menteri lingkungan hidup dan kehutanan republik Indonesia.

   Marilah mulai sekarang cintai alam dan lestarikan sumber daya didalamnya! Puspa dan satwa adalah salah satunya.






Storm Sisters : The Sinking World

By : Anissa Rizki.


Judul : STORM SISTERS : THE SINKING WORLD (DUNIA YANG TENGGELAM)
Penulis : Mintie Das
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Tebal : 455 halaman
Bahasa : Indonesia
Sampul : Latar merah, hitam, dan putih.

Sinopsis:
Lima gadis remaja---Charlie, Sadie, Liu, Raquel, dan Ingela---bersama mengarungi samudra. Tapi, mereka bukan gadis sembarang, melainkan anggota Storm, persaudaraan yang bertugas melindungi lautan. Dan dalam perjalanan itu, mereka bertekad mencari pelaku yang merenggut nyawa orang-orang yang mereka sayangi untuk membalas dendam. Namun, sekarang semuanya berubah. Gadis-gadis itu mendapat informasi tak terduga: ada kemungkinan besar orangtua yang mereka kira telah tewas ternyata masih hidup! Dalam misi baru pencarian orangtua ini, para gadis Storm harus menghadapi lawan-lawan lama dan baru yang mengincar nyawa mereka. Seakan itu belum cukup, mereka juga terseret dalam rencana kudeta terhadap Raja Denmark. Tapi, tidak akan ada yang mampu menghentikan tekad gadis-gadis pemberani ini... tidak pula hamparan lautan es penuh bahaya yang menanti mereka.

Rekomendasi:
Sebagai penggemar berat bajak laut, saya hanya bisa membiarkan diri saya memulai petualangan hebat ini, terutama karena sekali ini, para gadis berkuasa dan saya harus mengatakan, bahwa sangat baik untuk keluar dari jaket ini biasanya sangat laki-laki. Memang benar bahwa alam semesta yang sangat kasar ini mungkin tidak melekat dengan kelembutan feminin, tetapi novel ini, akan membuat kita benar-benar meninjau prasangka kita dan bahkan lebih dari itu. Dalam konteks ini, kita mengikuti Charlie, Sadie, Liu, Raquel dan Ingela, mereka berusia antara 11 dan 17 tahun dan mereka pergi bertualang di lautan dunia, untuk mencari jawaban atas pembunuhan orang tua mereka. Jangan tertipu oleh usia wanita mudanya, kisah mereka akan sangat jauh dari kekanak-kanakan, mereka sendirian, pada belas kasihan dunia yang terkadang kejam, di mana citra wanita itu sayangnya masih sangat lemah dan di mana pria tidak memiliki belas kasihan untuk mereka. Jadi percayalah, mereka akan benar-benar hidup di neraka, mereka tidak kekurangan keberanian atau pelatihan, mereka bertarung seperti singa betina, mereka siap untuk membunuh jika perlu dan sangat sulit untuk begitu gadis muda. Mintie Das memiliki bakat luar biasa untuk membenamkan kita di alam semesta, dari halaman pertama, dia akan menarik perhatian kita, tidak pernah melepaskannya. Plotnya dikuasai dengan nikmat, kita benar-benar terlibat dalam kebutuhan mendalam ini untuk menemukan penyebab tragedi ini, kita mencari petunjuk sedikit pun dan remah-remah jawaban untuk dimasukkan ke dalam mulut mereka. Bagi saya, dia memiliki kecerdasan untuk tidak meminimalkan kekerasan di dunia ini, pada rasa sakit publik yang agak muda, sebaliknya, untuk menunjukkan kepada kita kenyataan pahit kehidupan ini. Kita harus memiliki hati yang baik, karena pahlawan kita akan hidup dalam peristiwa yang sangat sulit, ketakutan akan konstan dan kita akan bergidik menghadapi apa yang dapat terjadi pada mereka. Sangat menyakitkan bagi kita untuk melihat mereka menderita, baik secara psikologis, sebagai akibat dari trauma menjadi saksi pembunuhan orang tua mereka. Itu secara fisik, karena pertempuran akan banyak dan bahwa mereka tidak akan membiarkan luka kadang-kadang sangat serius, yang benar-benar akan membahayakan hidup mereka. Saya harus mengakui bahwa secara emosional kadang-kadang akan sangat sulit, kami sangat fokus pada pahlawan muda kami, bahwa kami tidak dapat membantu hidup secara perwakilan dan berbagi dengan intens perasaan mereka, negatif atau positif.